Melarikan Diri ke Rinjani

Banyak orang mengatakan bahwa hidup ini hanya sekali, oleh karena itu nikmatilah selagi muda, salah satunya mungkin pergi mendaki gunung Rinjani. Gunung Rinjani adalah gunung yang berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung yang merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3.726 mdpl ini merupakan salah satu gunung favorit bagi para pendaki baik lokal maupun mancanegara. Sudah banyak beredar dipostingan instagram tentang keindahan gunung Rinjani. Kali ini saya tidak hanya bercerita tentang keindahan yang sudah tidak diragukan lagi itu, saya akan bercerita tentang sisi lain dari Rinjani, dan bagaimana saya bisa berada di sana.

 Semua berawal dari wisuda saya 20 September 2017 lalu, lulus dari salah satu universitas di Jakarta setelah menempuh pendidikan 4 tahun lamanya, akhirnya resmi mendapat gelar sarjana di belakang nama, hehehe. 2 hari sebelum wisuda saya baru balik dari perjalanan seorang diri atau istilahnya solo traveling mengitari daerah Sulawesi Selatan, daerah mana saja yang saya kunjungi dan bagaimana keadaan di sana itu akan saya tulis di lain cerita, hehehe. Wisuda kali itu bagi saya tidak seperti teman-teman lainnya, saya hanya memberitahu beberapa orang terdekat saja, sekitar 5 orang mengenai wisuda saya itu. Dan yang datang ternyata hanya 1 orang, yang lain memiliki kesibukan tersendiri saya maklum. Karena saya juga bisa dibilang memiliki 'kepribadian aneh'. Saya tidak suka terhadap sesuatu yang mainstream istilahnya, jadi kalau orang lain memberitahu tentang sesuatu yang dirasa membahagiakan dan harus dirayakan, kalau saya berpikiran "kan baru wisuda doang, kecuali abis wisuda langsung kerja besoknya atau nikah gitu, baru saya mau meriah". Pada wisuda tersebut, saya tidak memakai Make Up Artist (MUA), jadi hanya modal beli mascara, blush-on dan pinjam eyeliner sahabat saya. Ketika berkumpul di aula Jiexpo Kemayoran, para wanita terlihat sangat cantik dan anggun dengan dandanan dan kebaya yang dikenakan, sementara yang pria sangat berwibawa dengan setelah jas. Setelah acara selesai, semua wisudawan dan wisudawati diberi bunga dan lain-lainnya dari para kerabat dan teman mereka, tak lupa berfoto di studio foto dadakan yang telah mereka sewa sehari sebelumnya. Sementara saya, hanya menemui 1 orang senior saya, berfoto seperlunya dan pulang. Sampai mami bertanya, "kok lu engga ada yang kasih bunga? tadi mah beli tuh di pinggiran banyak, yang lain juga pada dandan, elu mah kaga". Dan saya hanya terdiam tanpa menemukan jawaban atas pertanyaan itu.

Wisuda yang tanpa riasan
 Selang beberapa hari setelah wisuda, foto-foto menggunakan toga dan baju kebesaran wisuda bersama keluarga, teman, kekasih bertebaran di media sosial, terutama instagram. Sementara saya belum memposting 1 foto pun. Kemudian tanpa ada rencana, tanpa memberitahu siapapun selain mami, saya memesan tiket ke Lombok, saya ingin pergi mendaki gunung Rinjani!

Berangkatlah saya seorang diri menuju Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Welcome to Lombok

Minta difotoin orang dong, hehe
Setelah sampai di Lombok, saya menghubungi teman saya untuk menjemput dan mengikuti trip yang akan dilaksanakan oleh travelnya.

Hari pertama di Lombok, saya mengunjungi Air Terjun Sendang Gile, Tiu Kelep, dan Bukit Selong Sembalun.


Bukit Selong Sembalun
Setelah lelah berkeliling pada hari pertama, kemi menuju homestay Sembalun untuk mempersiapkan segala atribut pendakian esoknya.

Hari kedua, saya dan yang lainnya bersiap-siap untuk mendaki gunung Rinjani. Perjalanan dilakukan dengan mobil bak terbuka menuju pintu masuk jalur pendakian Rinjani. Kami memulai pendakian pada pagi hari sekitar pukul 08:00 WITA.

Yang diujung sana adalah tujuan saat itu, Puncak Rinjani
Gambaran para porter sedang memasak di pos 2
Sangat berterima kasih sekali kepada para porter Rinjani
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju pos-pos selanjutnya, tujuan kami hari itu adalah tiba di Plawangan Sembalun sebelum malam, oh iya kami mendaki gunung Rinjani via Sembalun-Senaru.

Masih di ujung sana puncaknya, hehe

Jatuh cinta sama Plawangan Sembalun

Menikmati sunset bersama teman
Setelah mendirikan tenda dan makan malam, kami semua beristirahat karena akan melakukan summit pada pukul 02:00 WITA.

Kemudian pada pukul 02:00 WITA kami bersiap-siap dan sarapan roti bakar, karena energi harus tetap dijaga untuk pendakian panjang. Terdengar suara pendaki lain yang juga ingin melakukan summit.  Setelah dirasa perlengkapan telah siap, kami pun memulai perjalanan pagi itu. Karena saya yang terbilang cewek berani tapi manja, saya tidak tahu sama sekali cara memasang gaiter (pelindung kaki), saya memasangnya menurut ilmu ke-sotoy-an saya. Kemudian teman saya mungkin kesal tapi greget juga, dia lalu memasang kembali gaiter tersebut dengan benar dan saya hanya bisa cengengesan hehe.

Teman saya tersebut membawa beberapa perempuan dalam tripnya, sehingga ia menyesuaikan langkah yang lain yang menurut saya tergolong lambat. Saya memutuskan untuk berjalan terlebih dahulu sendirian. Kemudian  saya berpikir, "saya sudah sering naik gunung summit sendirian, dan kesan yang ditimbulkan ya biasa saja, tidak ada cerita-cerita menuju puncak". Akhirnya saya memutuskan menunggu di jalur menuju puncak, sampai terlelap tidur selama 1 jam namun teman saya masih belum terlihat. Udara dingin Rinjani pagi itu membuat saya gemetar sendirian dan bingung harus bagaimana. Di satu sisi saya bisa saja menggapai puncak dan menikmati sunrise sendirian, di sisi lain saya ingin perjalanan menuju puncak ini dilakukan bersama teman saya tersebut sehingga memiliki kesan yang berbeda.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya teman saya terlihat, dan para perempuan lain disuruh berjalan terlebih dahulu, karena ia ingin sweeping dan saya menemaninya.

Perjalanan menuju puncak benar-benar terasa berbeda, mungkin karena teman perjalanan yang menyenangkan dan tidak membuat bosan, walau terkadang saya membuat dia kesal dengan kelakuan saya hehe.

Sunrise mulai muncul di perjalanan menuju puncak

Trek munuju puncak
Dan lagi-lagi karena ke-sotoy-an saya, saya hanya membawa coklat di dalam jacket saya, tanpa membawa minum. Sehingga menyebabkan kehausan sementara persediaan air teman saya terbatas. Karena jalan yang mulai menanjak dan kehausan, speed saya agak berkurang dan akhirnya ditarik pake sarung sama teman saya haha. Tetapi karena ribet, saya akhirnya melepasnya dan tertawa karena kekonyolan yang kami lakukan. Rasa haus dan lelah seketika berubah menjadi candaan di sepanjang jalur, sambil saya bertanya apa tujuan ia naik gunung, terus ke depannya mau seperti apa, saya benar-benar menikmati setiap cerita menuju jalur saat itu.

Ketika melihat pendaki lain yang sedang break, kemudian saya beranikan diri meminta air walau hanya seteguk, sekedar menghilangkan kering di tenggorokan.

Dan akhirnya saya berhasil mencapai Puncak Rinjani, hal yang saya lakukan pertama kali adalah

MENANGIS!:( ALHAMDULILLAH
 Tangisan yang bercampur aduk ....

bersambung

http://ulpahsm.blogspot.co.id/2018/02/melarikan-diri-ke-rinjani-bagian-ii.html 

Komentar

Postingan Populer