Melarikan Diri ke Rinjani (bagian II)

Buat yang ketinggalan cerita sebelumnya, ini linknya ya : http://ulpahsm.blogspot.co.id/2018/01/melarikan-diri-ke-rinjani.html

Setelah sampai di puncak Rinjani yang saya lakukan adalah menangis. Tangisan segala yang sudah terjadi dalam hidup ini, tangisan kelelahan mendaki gunung Rinjani, tangisan mengalahkan keegoisan untuk menggapai puncak sendiri. Segala yang sudah terjadi, terulang di memori dan mengalir jatuh di pipi. Rinjani mengajarkan banyak hal, tentang kesabaran, keceriaan, kekecewaan, dan yang paling utama adalah rasa cinta. Perasaan mencintai negeri ini lebih dari apapun, perasaan untuk terus dapat menjelajah lebih jauh tentang Indonesia, perasaan untuk terus berjiwa muda walau raga menua. Rinjani, aku jatuh hati padamu.

Setelah diledek oleh teman karena menangis, akhirnya saya diam dan menikmati keindahan Rinjani dari atas, kemudian mengganti jacket dengan pakaian kebesaran dan toga.

I DID IT!
Ketika yang lain berfoto dengan background rak dengan banyak buku, menyewa studio foto, berdandan sangat cantik. Kamu, Maria Ulpah, berbeda dari mereka semua. Perjuangan kamu menempuh pendidikan selama 4 tahun lamanya, menjadi seorang atlet yang juga membagi waktu pagi dan sore untuk latihan di samping pendidikan, pernah merasa jauh dari orang tua karena tinggal di kos-kosan, pernah juga merasakan panasnya aspal berkendara roda dua dari Tangerang-Rawamangun, mencari pekerjaan sampingan dengan mengajar, melatih anak-anak. Seorang wanita yang terbilang 'gila' pergi ke tempat yang kamu ingin seorang diri, pulang larut malam karena menunggu jalanan lengang setelah melatih. Kamu, Maria Ulpah, berbeda dari mereka semua. Jangan pedulikan omongan orang yang tidak benar tentang dirimu, bukan masalah kalau kamu selalu sendiri, karena Gie pernah bilang, the eagle flies alone. Selama kamu yakin pada dirimu sendiri, jangan takut pada apapun hanya karena yang lain bergerombol dan terlihat sama.


 Setelah menikmati keindahan dan mengabadikan gambar, kemudian saya dan yang lain turun. Kalau menurut orang lain turun gunung lebih mudah karena tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga, kalau menurut saya turunlah yang paling susah karena saya memiliki masalah keseimbangan. Seringnya jatuh dan lepas kendali membuat saya lambat dibanding yang lain dan menjadi yang terakhir. Beruntungnya teman saya tidak meninggalkan saya sendiri, ia terus mendampingi walau saya telah menyuruhnya untuk turun duluan karena tidak ingin memperlambat. Karena sinar matahari yang cukup terik membuat saya sedikit pusing dan mual. Rasa-rasanya saya sudah tidak kuat lagi meneruskan perjalanan dan ingin istirahat di trek, tetapi teman saya selalu menguatkan dan dari perilakunya saya tahu dia tidak ingin saya menjadi cewek yang manja dan harus terus berjalan. Bahkan dia sempat menawari menggendong saya, tetapi saya menolak karena kalau masih sanggup berjalan, saya akan berjalan terus walau akan lama.

Saya menjadi yang terakhir sampai di tenda, kemudian langsung masuk dan istirahat sambil menempelkan tissue basah di kening. Kemudian kami memutuskan untuk menginap satu malam lagi di Plawangan Sembalun. Malam harinya saat memasak untuk makan malam, saya mendatangi tenda porter untuk membantu mempersiapkan makanan, sekalian belajar masak di gunung juga. Mengiris sayuran, mengupas kentang dan lainnya. Setelah menikmati makan malam, saya keluar tenda dan bercengkrama dengan porter dan pendaki lain melingkari api unggun yang kami buat untuk menghangatkan badan didinginnya udara malam Rinjani, tak lupa secangkir coklat panas menemani.


Pagi harinya kami bersiap-siap untuk turun menuju Danau Segara Anak. Perjalanan dari Plawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak memakan waktu yang cukup lama, tetapi semua itu tidak terasa karena pemandangan yang ditawarkan sangat memanjakan mata. Rasa-rasanya setiap langkah kaki ingin berhenti untuk sekedar mengambil gambar, seakan tidak rela meninggalkan Plawangan Sembalun kala itu.

Dari Plawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak
Setelah sampai di Danau Segara Anak, kami pun beristirahat dan menikmati keindahan di sana sambil porter mempersiapkan tenda untuk kami. Sore harinya teman-teman yang lain mulai mandi di pemandian air panas, saya masih santai-santai di tenda bersama teman saya sambil bercerita tentang kehidupan dan lainnya, kemudian saya pun ingin bebersih diri dan diantar oleh porter untuk menuju ke pemandian tersebut.

Malam harinya kami mulai menangkap ikan dengan tongkat seadanya yang diambil dari batang pohon dan dibuat runcing ujungnya untuk menombak ikan. Memang di Segara Anak kalian tidak akan pernah kekurangan bahan makanan, karena menangkap ikan di sini lumayan mudah, ikan-ikan yang ada di sini sengaja dilepas oleh penduduk, tinggal kemampuan kita menombak ikan dan survival di alam saja yang akan diuji hehe. Setelah ikan berhasil terkumpul, porter pun menyiapkan makan malam, tema makan malam kali itu adalah ikan bakar, karena saya tidak terlalu suka dengan ikan, saya meminta porter untuk membuat telur ceplok saja, ditambah dengan sambal yang ditumbuk secara alami dengan bekas botol air mineral, rasanya makan malam itu adalah yang ternikmat karena dimakan bersama-sama di tengah dinginnya udara Rinjani bersama kehangatan kawan-kawan. Selesai makan kami pun memutuskan untuk tidur karena esok paginya akan turun via jalur Senaru.

Pagi harinya saya bangun dan menge-pack barang karena kami akan turun.

View Gunung Barujari
Sepanjang naik ke Plawangan Senaru, view di bawahnya ga berhenti mengucap syukur
Alamnya keren, modelnya biasa aja hehe
Setelah menempuh perjalanan panjang dari mulai lewat bebatuan, debu-debu jalan, sampai masuk hutan, Rinjani memang yang terbaik. Tetapi kabarnya kalau ingin lewat jalur Senaru jangan sampai lewat dari magrib, karena ya begitu hehe.


You did it! Rinjani Sembalun-Senaru
 Setelah melihat plang pintu Senaru, rasanya seperti benar-benar melihat kehidupan. Akhirnya bisa mandi, jajan di warung dan melemaskan badan. Alhamdulillah.

Warung setelah pintu masuk Senaru
Kemudian kami masih harus berjalan lagi untuk mencari mobil pick-up yang akan membawa kami ke basecamp awal.

Setelah sampai di basecamp, istirahat, saya ingin mandi dan keramas namun listrik mati dan akhirnya naik motor malam-malam keliling Desa Sembalun untuk ke tempat penginapan yang bisa digunakan untuk mandi (salah satu anak pemilik basecamp kenal dengan yang punya penginapan dan kami mandi gratis), naik motor sehabis mandi keliling Desa Sembalun benar-benar membuat menggigil tapi tak berhenti mengagumi setiap tempat yang pernah saya datangi.
Mengutip dari novel Pejalan Anarki karya Jazuli Imam:
"Jika rumah adalah tempat di mana kita berantusias untuk kembali, tenang, dan berbahagia berlama-lama di dalamnya. Maka pejalanlah yang paling punya banyak rumah. Entah itu bangunan, gunung, lelautan, atau seseorang".

Rinjani, terima kasih 

Komentar

  1. Luar biasa udah nyampe puncak Rinjani. :D
    Btw saya suka tulisannya, keep writing! ;)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer