Solo Traveling Celebes 2017

Mengutip kata-kata dari Pramoedya Ananta Toer :
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
Ucapan bisa terlupa, tapi kata-kata yang dituliskan tetap abadi. Itulah kenapa banyak pendaki gunung yang mati saat kegiatan di alam tetapi jarang diingat, namun sosok Soe Hok Gie, pemuda kurus yang mati di Puncak Mahameru, dengan pemikiran-pemikiran dan tulisannya tetap dikenang hingga saat ini.

Sekalinya menulis rasanya tidak ingin berhenti, selalu ada materi untuk dijadikan tulisan, terutama setelah melakukan perjalanan.

Dan kali ini saya akan bercerita mengenai pengalaman saya pergi jalan-jalan sendiri atau lebih dikenal istilahnya dengan solo traveling.

Tujuan saya kali ini adalah Sulawesi Selatan. Kenapa Sulawesi Selatan? Ada apa di Sulawesi Selatan? Well, jawabannya juga tidak ditemukan sampai sekarang, dan kalau masih ada yang tanya, jawaban saya selalu, "ya cuma kepengen ke luar pulau Jawa aja, terus pengen menginjakkan kaki di tanah Sulawesi, karena di tahun 2016 lalu saya sudah menginjakkan kaki di tanah Sumatera". Terus misal masih ada yang tanya lagi, "di Sulawesi ada temen? mau ke mana aja nanti?", jawabannya "engga tau! hahaha yang penting sampe Sulawesi dulu, sampe bandaranya dulu hahaha."

Setelah uring-uringan, galau-galauan, sakit-sakitan, banyak drama dan sebagainya dan seterusnya. Berangkatlah saya bulan September lalu ke Sulawesi Selatan sendirian. Sebenarnya hal-hal drama yang saya sebutkan itu dikarenakan saya yang sedang skripsian di semester 8 belum jalan-jalan dan  masih berkutat dengan revisian-bimbingan-penolakan.

Kalau dibuat perinciannya mungkin seperti ini:
1. Januari 2017 : sidang SPS (Seminar Persiapan Skripsi)
2. Feb-Juli 2017 : drama-drama skripsian uring-uringan pengen jalan-jalan
3. 20 Juli 2017 : skripsian ditanda tanganin dospem (padahal masih banyak revisi)
4. 21 Juli 2017 : langsung nyerahin revisian dalam 1 malam, langsung rangkap 5, langsung ngasih ke prodi, langsung panik keluar jadwal sidang hari Senin
5. 24 Juli 2017 : sidang hari Senin, dari Tangerang-Rawamangun naik motor, sidang maju ketiga, di ruangan disuruh lari pake rok ketat, sidang senyum-senyum dikira cengengesan.
Revisian-revisian, hard cover lagi rangkap 5, balik malem karena ngurusin hard cover, nyari mesin ketik manual, burning CD, nyari materai, segala macem segala macem, kelar, cabut ke Sulawesi! Hahaha

Reaksi bocah yang baru tau sidang itu cepet

Jumat rangkap 5, masih dirangkap, jadwal sidang udah keluar hari Senin!

Sidang belum, udah mikirin selempangan dan liburan abis itu
Jadi penantian ke Sulawesi itu berbulan-bulan, kelar skipsian langsung cabut sendirian, nyari teman di instagram, hahaha.

Sampe Sulawesi Selatan malem sendirian
Pas sampai di Sulawesi Selatan itu Masya Allah banget, "ya Allah gue sampe juga sendirian :( ya Allah akhirnya menginjakkan kaki di tanah Daeng, Sulawesi, ya Allah terus ke mana lagi ya :( hahaha"

Jadilah gue panik sendirian mau ke mana mau gimana, akhirnya gue dengan ilmu ke-sotoy-an lagi-lagi minta bantuan instagram.

Mencari bantuan
Setelah men-direct message orang yang engga dikenal, cuma modal "kayaknya nih orang baik deh" dan ternyata doi mau rumahnya saya tumpangi, jadilah malam itu langsung menghubungi rental mobil gitu dan langsung menuju rumah teman yang saya kenal di instagram itu.

(Catatan penting: transport di Sulawesi Selatan itu agak susah, ada sih taksi gitu dari bandara tapi biasanya mahal, apalagi kalau perjalanan kita jauh. Ada juga yang menyewakan mobil lepas kunci gitu, tapi kan saya belum bisa nyetir dan ga ngerti jalan, jadilah naik mobil yang membawa sampai ke tujuan atas rekomendasi teman yang dikenal di instagram tersebut). 

Setelah menempuh perjalanan sekitar 4-5 jam dari bandara ke tempat teman tersebut, di Sengkang, dengan kecepatan mobil yang membuat saya mun*ah di dalam (engga ngerti lagi sama orang yang bawa mobilnya ngebut-ngebut banget :( ) sampailah saya di rumah teman saya, panggil saja Gisel pukul 01:00 WITA. Dan dia sangat baik menyambut saya, kemudian saya pun tertidur karena lelah akan perjalanan tersebut.

(Catatan : saya rada-rada lupa jadwal perjalanan saya, jadi ini sudah sangat diusahakan untuk diingat-ingat urutannya karena saking lamanya saya di Sengkang).
 
Hari pertama di Sengkang, Sulawesi Selatan.

Mengunjungi rumah adat
Hari kedua di Sengkang, Sulawesi Selatan.

Mengunjungi Danau Tempe
 Hari ketiga di Sengkang, Sulawesi Selatan.

Masjid Raya Sengkang
Lapangan Sengkang
Hari keempat kami berangkat dari Sengkang ke Bulukumba dengan motor, kira-kira 5-6 jam perjalanan.

Tiba di Bulukumba, lokasi pertama yang kami datangi adalah Pantai Appalarang yang sangat terkenal itu dan memang benar-benar bikin saya teriak, kagum, ga ngerti lagi.

Pantai Appalarang, Bulukumba, Sulawesi Selatan
View dari atas
 Setelah dirasa cukup mengambil gambar (walau rasanya ingin berlama-lama), kemudian kami pindah ke tempat lain yaitu Pantai Tanjung Bira yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Pantai Appalarang.

Hallo, Tanjung Bira. Akhirnya kita ketemu langsung ya.
Setelah dari Tanjung Bira, kami kemudian pergi menuju Pantai Tanjung Bara, masih bersebelahan, bedanya kalau di Bara bisa camping pake tenda gitu.

Tanjung Bara. Super ga ngerti lagi pasirnya lembut banget! Airnya biru banget!
Setelah keliling-keliling pinggir pantai, kemudian teman saya pergi sendiri cari kenalan, siapa tau ada yang dia kenal terus bisa numpang tidur di tenda (karena kami engga bawa apa-apa, niatnya malah mau sewa kamar tapi ternyata mahal juga untuk sekedar tidur semalam). Dan benar saja, ternyata teman saya itu mengenal salah satu cowok yang sedang mendirikan tenda di pinggir pantai, alhasil kami boleh tidur di tendanya, sekaligus dapat teman baru lagi. Super happy!

Selalu ada cerita di setiap perjalanan
Masih mahasiswa, seneng kegiatan outdoor juga, anak Makassar.

Sore pun berganti malam sambil bercerita-cerita tentang perjalanan saya serta saling mengenal satu sama lain. Saya dipersilakan tidur di tenda bersama teman saya, sementara mereka tidur di tenda lain dan juga ada yang di hammock (ayunan).

Pada siang harinya, saya dan teman memutuskan untuk pulang terlebih dahulu mengingat perjalanan panjang yang kami tempuh berdua dengan menggunakan sepeda motor. Kami pun berpamitan dan saling mem-follow akun instagram masing-masing.

Perjalanan dari Bulukumba-Sengkang cukup jauh, kami berangkat sekitar pukul 13:00 WITA - 18:30 WITA. Sepanjang perjalanan disuguhi matahari terbenam yang bikin saya tidak berhenti senyum-senyum sendiri.

Sepanjang jalan Bulukumba-Sengkang, sepi banget!
Setelah sampai kembali di Sengkang, kemudian Gisel mengajak saya makan "Mie Tik-Tik", makanan khas katanya. Mienya enak, dikasih bumbu kayak capcay gitu ada sayurnya, ditambah jeruk nipis tambah seger. Sayangnya HP saya mati jadi saya tidak sempat foto bentuk Mie Tik-Tiknya. Tapi kurang lebih gambarnya seperti ini,

Foto : google
 Kemudian kami pulang ke rumah dan beristirahat.

Esok harinya saya masih harus meneruskan perjalanan ke tempat lain lagi, Gisel mengantar saya sampai tempat trayek mobil travel antar kabupaten/kota. Kami pun berpisah, terima kasih Sengkang dan segalanya!

Setelah menunggu mobil Sengkang - Pare-Pare penuh, mobil pun berjalan. Sepanjang jalan saya masih memikirkan mau ke mana dan gimana lagi, benar-benar kemampuan bersosialisasi kembali diuji. Beruntungnya Tuhan bersama para petualang, Dia tidak akan membiarkan hamba-Nya kesepian. Saya berkenalan dengan sopir mobil travel tersebut yang ternyata baik, setelah sampai di Pare-Pare kemudian saya diajak keliling-keliling berdua saja di mobil karena penumpang lain sudah turun.

Sebenarnya di sinilah saya merasa paling takut sepanjang perjalanan yang saya lalui....

Bersambung.

http://ulpahsm.blogspot.co.id/2018/05/solo-traveling-celebes-part-ii.html 

Komentar

Postingan Populer