Langsung ke konten utama

Solo Traveling Celebes 2017 Part III

Cerita sebelumnya : http://ulpahsm.blogspot.co.id/2018/05/solo-traveling-celebes-part-ii.html

Setelah kami saling berkenalan kemudian kami memulai perjalanan di Toraja. Oh iya, nama kenalan dari instagram itu Muhammad Ashar atau panggil saja Anca, punya travel sendiri, namanya Ogie Travel, kalau kalian mau melakukan trip kelompok atau pribadi bisa hubungi saja orangnya. Destinasinya yaitu Sulawesi Selatan sudah pasti; gunung Latimojong-Toraja-Makassar, pokoknya kalau mau ngetrip bisa hubungi langsung. Selain di Sulawesi Selatan, destinasi lainnya yaitu Lombok; gunung Rinjani dan sekitarnya, Bali, serta Ambon; gunung Binaiya dan sekitarnya. Temannya yang dari Bekasi namanya Pras, seorang traveler juga.

Dari lapangan Bakti Toraja Utara kemudian kami berangkat menuju Batutumonga.

Jadi kalau saya jelaskan seperti ini;

Sulawesi Selatan ibukotanya Makassar, Makassar itu kota, di sekitarnya masih banyak daerah seperti Maros, Sengkang, Pare-Pare, dan lainnya. Dari Makassar kalau mau ke Toraja bisa menggunakan bus dengan waktu tempuh 8 jam. Bus berangkat 2x setiap harinya, yaitu pada pagi hari sehingga bisa tiba sore harinya atau malam hari sehingga tiba pagi harinya, silakan pilih waktu yang pas. Busnya juga sangat nyaman harga kisaran 100 ribuan bisa kurang atau lebih tergantung bus apa yang dipilih serta hari keberangkatan (karena kalau menjelang natal dan tahun baru harga naik).

Dari Makassar kita akan melewati beberapa kabupaten dan kota Pare-Pare, lalu tiba di Tana Toraja terlebih dahulu, Tana Toraja ibukotanya bernama Makale, setelah melewati Tana Toraja barulah kita sampai di Toraja Utara yang beribukota Rantepao. Wisata serta kebudayaan paling banyak ya di Toraja Utara, oleh karena itu kami akan melakukan perjalanan di Toraja Utara.

Sumber : google. Peta Sulawesi Selatan
Kalau diibaratkan Rantepao itu kotanya, sementara desanya ada di atas lagi yaitu Batutumonga. Jadi kalau kalian pernah ke daerah Dieng di Jawa Tengah, Dieng itu kotanya, gunung Prau itu puncaknya. Begitu pula dengan daerah Toraja Utara, di daerah Rantepaonya saja sudah dingin, kalau ke Batutumonga ya lebih dingin lagi, ya orang isinya pohon-pohon, kuburan batu, sawah, kerbau, rumah tongkonan.

Berangkat dari lapangan Bakti Rantepao, kami menuju ke atas, tujuan pertama kami yaitu "Lokomata". Perjalanan ditempuh sekitar 30 km.

Lokomata merupakan sebuah batu besar di pinggir jalan yang berisi lubang-lubang persegi yang di dalamnya terdapat mayat orang-orang yang dianggap berpengaruh. Di dalam satu lubang biasanya tidak hanya diisi oleh satu mayat, tetapi bisa untuk satu keluarga.

Latar belakang: Lokomata
Menurut informasi yang saya dapat, kalau mayat di letakkan di paling atas, itu akan cepat sampai ke nirwana (surga). Selain itu juga banyak 'Tau-Tau' atau patung.

Lokomata
Lokomata
Saya sangat beruntung ketika datang ke sini karena sedang dilangsungkan acara adat "Ma' Nene".

Ma' Nene merupakan suatu acara penghormatan terhadap nenek moyang atau leluhur yang telah wafat. Acara Ma' Nene dilakukan oleh keluarga yang ditinggal oleh nenek moyang atau leluhur tersebut setelah beberapa tahun. Rangkaian acaranya yaitu pengambilan mayat dari dalam kuburan batu, kemudian diangin-anginkan, mengganti pakaiannya dengan pakaian lain yang lebih bagus karena kan sudah lama di dalam peti, pastilah pakaiannya rusak, oleh karena itu diganti dengan yang lebih baru. Mayat tersebut dibersihkan, kemudian dimasukan kembali ke dalam peti untuk dimasukan ke dalam kuburan batu lagi. Sempat juga mendengar informasi di sana bahwa untuk sekalian mengharapkan sesuatu, misalnya kalau ingin panen padi ditahun ini hasilnya bagus, maka diselipkan sesuatu ke dalam mayat tersebut.

Kenapa harus ribet-ribet kayak gitu? Emangnya engga takut?
Namanya juga tradisi leluhur, budaya masyarakat yang sudah dipegang sejak lama. Sempat mencari informasi juga sebagai bentuk kasih sayang kepada nenek moyang atau leluhur, jadi misal kita lahir tahun ini, leluhur kita udah lama meninggal, diadakan acara Ma Nene agar kita  bisa melihat kembali leluhur kita walau kita tidak pernah mengenal. Pergantian baju juga dilakukan agar kita bisa melihat keadaan leluhur kita, jadi diharapkan akan tetap sama bentuknya walau sudah berpuluh-puluh tahun. Mereka tidak takut karena rasa kasih sayang mereka terlalu besar daripada ketakutan mereka.

Mayat baru dibuka dari peti

Setelah memerhatikan keadaan, mendengarkan penjelasan, mengambil gambar, kemudian Anca mendapat pesan bahwa ada acara lain lagi yang sedang berlangsung yaitu "Rambu Solo", kami pun kemudian bergegas pergi ke tempat acara tersebut.

Tempat dilangsungkannya acara Rambu Solo lumayan jauh dari Lokomata, semakin naik ke atas. Saya bertanya di motor acara seperti apa itu, kemudian dijawab pemotongan puluhan ekor kerbau langsung.

Wait, "puluhan ekor kerbau?!"

Bersambung ...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

9 April 2017; Bertemu Sandiaga Uno

'Seberapa indah mimpi, jika tetap mimpi?' - Seno Gumira Ajidarma.

Potongan kalimat tersebut yang menjadikan saya yakin, bahwa seberapa indah mimpi saat saya tidur, tak akan ada artinya jika tetap menjadi mimpi. Saya harus mewujudkannya! Suatu kemauan yang sangat keras saya akui pada diri saya sendiri terhadap apapun yang saya inginkan. Cerita berikut salah satunya...

Saat ini sedang ramai pemilihan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2017-2022. Awalnya terdiri dari 3 pasangan, yakni Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, Basuki Purnama (Ahok)-Djarot Hidayat, serta Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Dan secara personal saya tak bisa memilih diantaranya lantaran saya tidak mendalami sepak terjang serta visi misi ketiga pasangan cagub dan cawagub DKI. Bahkan untuk menonton debatnya melalui siaran televisi pun saya hampir tidak pernah secara penuh. Saya sejatinya memang tidak menyukai janji-janji kampanye serta perasaan dalam diri saya apabila mereka kalah, mungkin bisa dibi…

Solo Traveling Celebes 2017 Part II

Buat yang belum sempat membaca cerita part I, di sini linknya ya : http://ulpahsm.blogspot.co.id/2018/02/solo-traveling-celebes-2017.html

Sampailah saya di Pare-Pare bersama sopir travel, kami berdua saja dan itu membuat saya agak sedikit takut. Kami sampai di Pare-Pare sekitar sore hari dan saya sempat diajak makan di tempat makan di dekat pelabuhan, sebenarnya kota itu cukup menyenangkan ditambah dengan saya yang tiba pada sore hari sehingga sangat jelas pemandangan matahari terbenam di pinggir laut. Yang membuat saya sedikit takut adalah saya di sana bersama seseorang yang sama sekali tidak saya kenal, saya tidak tahu sama sekali bagaimana watak atau kebiasaan orang Makassar, saya hanya bermodal percaya pada setiap orang yang saya temui. Setelah makan dengan pemandangan yang bagus, saya pun mengabadikan moment tersebut.

Selagi masih di Pare-Pare, sopir itu menawarkan ke tempat-tempat tertentu, sempat juga menawarkan agar saya tidak usah berangkat ke Toraja hari itu juga karena suda…

People Come and Go

Orang-orang datang dan pergi, memang begitu jalannya....

Saya kembali menulis, begitu banyak perasaan selama ini yang ingin saya tulis. Rupanya yang paling menggebu-gebu masih tentang cinta.

Saya kembali merasakan perasaan cinta. Saya kembali merasakan sayang. Tetapi ini bukan perasaan terhadap satu orang.

Orang-orang datang pergi, sedikit banyak saya terbiasa. Ketika masih kuliah, saya mempunyai teman-teman yang bisa dibilang cukup dekat, kami berdelapan perempuan. Pergi ke kantin, jalan, merayakan ulang tahun, selalu kami lakukan berdelapan. Hingga pada semester 5 saya mulai menarik diri...

Saya mulai menyadari sesuatu terjadi pada diri saya, bahwa saya terlalu liar, saya terlalu tomboy, saya terlalu berbeda, dan saya tidak nyaman berada di lingkungan dekat wanita. Mereka tidak bersalah, saya yang terlalu aneh hingga akhirnya saya berjalan sendiri...


Di kampus, saya juga ikut latihan atletik di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) sekarang disebutnya Fakultas Ilmu Olahraga (FIO). Mungki…