Solo Traveling Celebes 2017 Part II

Buat yang belum sempat membaca cerita part I, di sini linknya ya : http://ulpahsm.blogspot.co.id/2018/02/solo-traveling-celebes-2017.html

Sampailah saya di Pare-Pare bersama sopir travel, kami berdua saja dan itu membuat saya agak sedikit takut. Kami sampai di Pare-Pare sekitar sore hari dan saya sempat diajak makan di tempat makan di dekat pelabuhan, sebenarnya kota itu cukup menyenangkan ditambah dengan saya yang tiba pada sore hari sehingga sangat jelas pemandangan matahari terbenam di pinggir laut. Yang membuat saya sedikit takut adalah saya di sana bersama seseorang yang sama sekali tidak saya kenal, saya tidak tahu sama sekali bagaimana watak atau kebiasaan orang Makassar, saya hanya bermodal percaya pada setiap orang yang saya temui. Setelah makan dengan pemandangan yang bagus, saya pun mengabadikan moment tersebut.

Sunset di Pare-Pare
Pemandangan dari tempat kami makan
Selagi masih di Pare-Pare, sopir itu menawarkan ke tempat-tempat tertentu, sempat juga menawarkan agar saya tidak usah berangkat ke Toraja hari itu juga karena sudah terlalu sore, dan menyarankan untuk menginap saja di tempatnya. Saya yang memang anaknya keras kepala, tetap pada pendirian saya untuk berangkat hari itu juga ke Toraja walaupun harus menunggu bus sampai larut malam. Selain itu juga karena saya takut, ya kali langsung mau gitu menginap di rumah orang yang sama sekali belum saya tau, ya meskipun dia baik, tetap saja saya belum kenal apalagi cowok. Akhirnya selagi menunggu bus malam ke Toraja, saya diajak keliling Pare-Pare (walau hanya sekedar berkendara di pinggir laut, berfoto di patung Habibie dan Ainun, sampai malam sempat diajak ke sebuah warung kopi, sempat solat di masjid).

Sunset di Pare-Pare
Patung Habibie dan Ainun
Dari sore sampai sekitar pukul 10:00 malam saya keliling, dari yang masih pakai mobil travel sampai sopirnya ganti pakai motor pribadi. Sempat berbincang juga sewaktu di warung kopi dengan sang pemiliki warung yang mengenal sopir tersebut, sempat kaget juga karena saya begitu nekat bertualang seorang diri apalagi ke Sulawesi, pemilik warung tersebut mengatakan untuk berhati-hati karena Sulawesi berbeda dengan pulau Jawa, untungnya saya pergi dengan sopir yang katanya baik tersebut, coba kalau sama orang lain.

Setelah dirasa sudah cukup malam bagi bus Toraja lewat, saya pun berpamitan dan menunggu di tempat yang katanya bus tersebut akan lewat.

Masjid tempat saya solat cerita sama Allah kalo saya sebenernya takut
Menuju tempat bus yang lewat arah Toraja
Menunggu bus Toraja
Sekitar pukul 11:00 malam barulah bus-bus besar lewat, tujuan Palopo paling sering lewat (kalau saya tidak salah). Sempat cemas juga kalau bus Toraja tidak lewat juga nanti saya gimana. Akhirnya yang ditunggu pun tiba, ada bus ke Toraja ! ALHAMDULILLAH. Saya pun naik dan bersalaman dengan sopir yang namanya baru saya tau yaitu Arman, dia berpesan kepada kondektur untuk menjaga saya karena dia bilang saya adiknya.

Saya di bus bisa dibilang tidur-tidur ayam, di satu sisi saya takut nanti di sana mau ngapain aja, di sisi lain saya ngantuk juga.

Akhirnya bus saya sampai di Toraja sekitar subuh, yaitu pukul 05:00, saya diturunkan di pinggir lapangan (karena saya tidak tau tempat, pas bilang "Toraja" sopirnya bilang "ini udah di Toraja", jadinya saya turun aja). Terus sempat bertanya berapa harga biaya perjalanan saya, tetapi ternyata sudah dibayarkan oleh Bang Arman, wah terima kasih sekali! :)

Saya turun di sini
Kemudian saya sempat beristirahat, saya duduk di kursi lapangan karena sepertinya habis ada acara sehingga di sana masih banyak kursi-kursi. Pada saat saya sampai di sana disambut gerimis.

Kemudian saya sebelumnya sempat dikasih kontak orang Makassar yang punya kenalan penginapan sekitaran Toraja, saya disuruh menghubungi, tetapi karena jaringan saya terganggu sehingga pesan saya belum terkirim. Saya sempat bertanya sama anak-anak yang ada di sana sepertinya mereka sedang latihan menari, mereka mencarikan saya alamat yang saya tuju, tetapi ternyata alamat itu luas dan saya kurang spesifik mengetahuinya.

Simbol Toraja Utara
Setelah saya mondar-mandir, kemudian ada Ibu-ibu yang bertanya mau ke mana, kemudian saya bilang mau ke jalan ... (saya lupa), terus saya ditanya dari mana, saya jelaskan saya dari Jakarta, kemudian disuruhlah saya masuk ke dalam rumahnya untuk beristirahat sembari menunggu gerimis reda.

Saya masuk ke dalam rumahnya, saya disuguhkan teh manis hangat, sementara katanya dia mau melakukan ibadah. Sungguh saya sangat berterima kasih sama Tuhan karena begitu banyak pertolongan yang datang ketika saya bertualang seorang diri.

Setelah selesai ibadah, Ibu-ibu itu pun mengajak saya mengobrol, sangat menyenangkan. Kemudian saya pamit karena saya sudah tau alamat penginapan serta namanya, saya berterima kasih sekali. (Oh iya, Ibu-ibu itu orang non-islam, entah kristen atau katolik, di rumahnya ada anjing, saya mengenakan jilbab, sehingga beliau singkirkan anjingnya agar tidak kena saya, sangat menghormati sekali, tidak memandang apapun untuk menolong orang).

Nama penginapannya "Wisma Monika" yang ternyata dekat dengan Lapangan yang tadi saya tiba. Tetapi kemudian saya mendapat direct message dari seorang kenalan di instagram katanya ia sudah hampir tiba di Toraja (membawa motor dari Makassar ke Toraja bersama temannya dari Bekasi), kemudian ia menyuruh saya untuk menunggu saja di lapangan, tidak usah memesan penginapan dulu karena nanti kami juga akan jalan-jalan di sekitaran Toraja, malah ia menyuruh saya memesan rental motor di sekitaran sana. Saya sangat senang karena ternyata ada orang Bekasi mau ke Toraja, sehingga saya terima saja sarannya untuk menunggu lagi di lapangan bakti.

Sekitar pukul 08:00 atau 09:00-an mereka sampai dan seperti langsung sudah kenal lama, suasana langsung mencair begitu saja. Akhirnya ia yang memesan motor, dan saya berboncengan dengannya. Temannya yang dari Bekasi naik motor sendiri.

Kemudian perjalanan kami di Toraja pun dimulai ....

Bersambung

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer